{"id":1855,"date":"2015-08-18T05:28:31","date_gmt":"2015-08-18T05:28:31","guid":{"rendered":"http:\/\/oongmaryonopencaksilataward.org\/?p=1855"},"modified":"2015-10-18T11:35:47","modified_gmt":"2015-10-18T11:35:47","slug":"pameran-patung-pencak-silat-jurus-cinta-lia-oong-dan-energi-pencak-silat-di-tangan-pematung","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/oongmaryonopencaksilataward.org\/id\/pameran-patung-pencak-silat-jurus-cinta-lia-oong-dan-energi-pencak-silat-di-tangan-pematung","title":{"rendered":"Pameran Patung Pencak Silat: Jurus Cinta Lia O\u2019ong dan Energi Pencak Silat di Tangan Pematung"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" src=\"http:\/\/www.aktual.com\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/pencak-siloat-681x503.jpg\" alt=\"\" width=\"681\" height=\"503\" \/><\/p>\n<p>Patung berjudul &#8216;Sabuk Hitam&#8217; karya AC Wicaksono (Aktual\/foto: m.vidia wirawan)<\/p>\n<p><strong>Jakarta, Aktual.com<\/strong> \u2013 Untuk membuktikan pencak silat bisa menjadi sumber inspirasi bagi dunia seni rupa, terutama seni patung.<\/p>\n<p>Ya, suatu niatan yang tidak bisa dibilang sederhana itu disodorkan perempuan bernama Rosalia Sciortino Sumaryono atau biasa disapa pendek saja, Lia, saat mengajak pematung di Indonesia untuk berkolaborasi \u2018mematungkan\u2019 gerak dari pencak silat.<\/p>\n<p>Berawal dari niatan itu, jadilah pameran seni patung pencak silat bertemakan \u2018Ekspresi Keindahan Rasa dan Bentuk Dalam Gerak Pencak Silat\u2019 di Taman Ismail Marzuki (TIM) yang diikuti 25 pematung pada 1-15 Agustus lalu.<\/p>\n<p>Ditemui di sela pameran, perempuan berdarah Italia itu terang mengakui kecintaannya terhadap dunia pencak silat berawal dari kecintaannya terhadap sang suami, O\u2019ong Maryono (alm). Yang tak lain merupakan pesilat yang sudah menorehkan berbagai prestasi semasa hidupnya. Antara lain, dua kali juara dunia pencak silat kelas bebas di tahun 1982 dan 1984.<\/p>\n<p>Jodoh mempertemukan O\u2019ong dengan Lia saat datang ke Indonesia sebagai antropolog budaya dan sosiolog pembangunan yang meraih gelar doktor ilmu sosial dengan penghargaan cum laude di Vrije Universiteit Amsterdam.<\/p>\n<p>\u201cDia tampan, baik dan jago silat. Tentu saya mudah jatuh cinta\u00a0kepadanya,\u201d tutur Lia dengan senyum terkulum saat mengenang awal pertemuannya dengan sang suami, kepada Aktual.com, Minggu (16\/8).<\/p>\n<p>Pertemuan Lia yang antropolog berlatar belakang budaya barat dengan O\u2019ong pesilat yang kental dengan budaya Melayu, ternyata melahirkan \u2018jurus-jurus\u2019 baru yang tak mudah padam. Yakni keinginan untuk terus menghidupkan pencak silat. Pameran patung ini menjadi salah satu \u2018jurus\u2019 yang berhasil direalisasikan Lia.<\/p>\n<p>Dia sepakat betul dengan pandangan mendiang suaminya, bahwa pencak silat merupakan gabungan gerakan olahraga, jurus beladiri dengan unsur seni, teknik pernapasan dan kesadaran spiritual.<\/p>\n<p>Mengutip apa yang pernah ditulis sang suami di buku yang berjudul \u2018Pencak Silat Merentang Waktu\u2019 bahwa \u2018secara paradoksal, kesatuan kaidah pencak silat justru terdiri dari inti yang sangat bervariasi, tergantung gerakan dan teknik dasar yang diutamakan dalam kombinasi tersebut.\u2019<\/p>\n<p>Atau dalam bahasa Lia, \u201cPencak silat haruslah dilihat sebagai bentuk budaya. Seperti teater misalnya, maka silat masuk dalam ruang seni.\u201d<\/p>\n<p>Lia pun menawari gagasan itu kepada pematung Dolorosa Sinaga. Entah lagi-lagi karena alasan cinta atau jodoh, gagasan membuat patung berdasarkan gerakan di pencak silat itu pun mendapatkan tanggapan antusias dari Dolorosa tanpa harus berbelit.<\/p>\n<p>Lalu dimulailah proses \u2018menularkan\u2019 gagasan itu kepada pematung-pematung lain. Sampai akhirnya terkumpulah 25 pematung yang bersedia ikut terlibat dalam pameran kolaborasi itu.<\/p>\n<p>Berderet 30 karya patung dari para perupa pun berhasil ditampilkan. Antara lain, patung berjudul \u2018Sabuk Hitam\u2019 karya AC Wicaksono, \u2018Tarung\u2019 karya Adhy Putraka.I, \u2018Sapuan dan Gunting\u2019 karya Artherio, \u2018You Will Be In My Heart\u2019 karya Cahyo Baskoro, \u2018Tarian Silat\u2019 karya Dolorosa Sinaga, dan \u2018Hindaran Sempok Silat Pedang Bawean\u2019 karya aIlham Rohadi yang juga merupakan seorang pesilat.<\/p>\n<p>Ternyata, dalam prosesnya, pameran tak hanya jadi ajang pamer patung silat saja. Berduyun para pesilat yang mendengar kabar adanya pameran itu berdatangan. Kata Lia, mereka para pesilat berdatangan tanpa melalui prosedur yang rumit atawa hitung-hitungan biaya yang kaku.<\/p>\n<p>\u201cMereka dibebaskan dan antusias untuk menggelar latihan silat selama pameran berlangsung secara sukarela. Buat saya ini membahagiakan sekali, membuat orang-orang yang datang untuk menikmati karya pematung sekaligus melihat langsung para pesilat dari berbagai perguruan unjuk kebolehan di sini,\u201d ujar Lia.<\/p>\n<p>Senang betul Lia mendapat respon positif dari para pematung, pesilat, dan tentunya khalayak luas di Jakarta yang datang ke pameran. Dari kabar yang didapat, lebih dari setengah patung yang dipamerkan pun laku terjual.<\/p>\n<p>Lia mengatakan, 40 persen dari hasil penjualan karya di pameran ini penggunaannya tak jauh perginya ke pencak silat juga. Yakni untuk biayai Pencak Silat Award, sebuah lembaga yang didirikannya 20 Maret 2014, tepat setahun setelah sang suami O\u2019ong Maryono meninggal.<\/p>\n<p>Pencak Silat Award inilah yang merupakan \u2018jurus\u2019 Lia untuk terus menghidupi pencak silat sekaligus mengenang sang suami. Dengan lakukan program hibah untuk danai penelitian dan dokumentasi pencak silat. Sebab, kata Lia, O\u2019ong percaya dokumentasi ilmiah perlu untuk mendukung pelestarian pencak silat.\u00a0\u201cSudah empat \u2018grant\u2019 kami berikan untuk proyek dokumentasi seperti itu,\u201d ucap dia.<\/p>\n<p>Harapan Lia dengan semua yang sudah dilakukannya pun tinggi. \u201cPencak silat harus dianggap sebagai sebuah kebudayaan dan bukan keangkuhan,\u201d ujar dia. Ditambahkan dia, pencak silat juga harus terus hidup di generasi muda Indonesia. Semoga.<\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Patung berjudul &#8216;Sabuk Hitam&#8217; karya AC Wicaksono (Aktual\/foto: m.vidia wirawan) Jakarta, Aktual.com \u2013 Untuk membuktikan pencak silat bisa menjadi sumber inspirasi bagi dunia seni rupa,&#8230;<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[8],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/oongmaryonopencaksilataward.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1855"}],"collection":[{"href":"http:\/\/oongmaryonopencaksilataward.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/oongmaryonopencaksilataward.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/oongmaryonopencaksilataward.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/oongmaryonopencaksilataward.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1855"}],"version-history":[{"count":3,"href":"http:\/\/oongmaryonopencaksilataward.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1855\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2719,"href":"http:\/\/oongmaryonopencaksilataward.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1855\/revisions\/2719"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/oongmaryonopencaksilataward.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1855"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/oongmaryonopencaksilataward.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1855"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/oongmaryonopencaksilataward.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1855"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}