{"id":1866,"date":"2015-08-09T05:48:17","date_gmt":"2015-08-09T05:48:17","guid":{"rendered":"http:\/\/oongmaryonopencaksilataward.org\/?p=1866"},"modified":"2015-10-19T07:43:16","modified_gmt":"2015-10-19T07:43:16","slug":"sejurus-diam-sejurus-gerak","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/oongmaryonopencaksilataward.org\/id\/sejurus-diam-sejurus-gerak","title":{"rendered":"Sejurus Diam, Sejurus Gerak"},"content":{"rendered":"<p><\/p>\n<p class=\"post-title entry-title\"><img decoding=\"async\" src=\"http:\/\/cdn.img.print.kompas.com\/getattachment\/9d4cb691-61ae-4def-bd5d-eea5dd32b29d\/224477?maxsidesize=300\" alt=\"\" \/><\/p>\n<p class=\"post-title entry-title\"><em>Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 9 Agustus 2015, di halaman 26 dengan judul &#8220;Sejurus Diam, Sejurus Gerak&#8221;<\/em>.<\/p>\n<div id=\"post-body-2100394454883368136\" class=\"post-body entry-content\">\n<div>Silat yang bergerak dan patung yang diam menyatu dalam pameran yang digelar untuk mengenang mendiang pendekar dan peneliti pencak silat O\u2019ong Maryono. Pameran yang menghadirkan silat dalam ruang-ruang baru akhirnya membangun percakapan baru.<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Pesilat dan pematung, laku ini sepintas sama-sama laku yang \u201dsepi\u201d. Pencak silat cenderung kalah pamor dari berbagai seni bela diri mancanegara. Menjadi pematung juga pilihan jarang di antara para seniman rupa meskipun tentu saja banyak pelukis yang juga membuat patung.<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Di Taman Ismail Marzuki, dua \u201dlaku sunyi\u201d itu bertemu. Tanpa tanggung-tanggung, 27 pematung menjadi \u201dtuan rumah\u201d pertemuan itu dengan menghadirkan 40 \u201dpendekar\u201d, 40 patung yang menjadikan seni pencak silat sebagai pangkal tolak penciptaan karya mereka.<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Hasilnya beraneka rasa. Pematung Dolorosa Sinaga, misalnya, hadir menonjol dengan sejumlah karya berseri \u201dTarian Silat\u201d, berupa patung pipih aluminium foil khas Dolorosa. Dari kepiawaian jemarinya melekuk-lekuk lembaran aluminium foil, Dolorosa membangun imajinasi gerak jurus-jurus para \u201dpendekarnya\u201d.<\/div>\n<div><\/div>\n<div>\u201dTarian Silat 3\u201d (2015), misalnya, justru hidup karena anatomi tubuh yang minimal, tanpa rinci wajah, jemari, ataupun kaki misalnya. \u201dSang pendekar\u201d menjadi berkelebat karena kewajaran postur tubuh yang seolah dibekukan dari tarikan-tarikan otot yang belum selesai menuju satu titik diam\u2014membangun kesan cepat, agresif, sekaligus indah.<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Patung keramik \u201dTarung\u201d (2015) karya Adhy Putraka juga indah mengabstraksi pertarungan dua pendekar. Alih-alih membangun rincian sosok dua \u201dpendekarnya\u201d, Adhy justru menghadirkan keindahan rupa tiga dimensi abstrak yang masif, berupa lempengan tebal keramik yang melengkung dan meliuk, menghadirkan rasa pertarungan dua raksasa yang penuh tenaga.<\/div>\n<div><\/div>\n<div>\u201dSapuan dan Guntingan\u201d (2015) menjadi contoh lain rupa tiga dimensi abstraksi yang berhulu dari gebrakan-gebrakan silat. Tak ada sapuan dan guntingan yang bisa dilihat dalam karya Artherio. Ia lebih memilih menghadirkan indahnya permainan komposisi bentuk dan kerincian permainan tekstur rupa tiga dimensi karyanya.<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Pameran \u201dEkspresi Keindahan Rasa dan Bentuk dalam Gerak Pencak Silat\u201d yang berlangsung di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 1-15 Agustus memang penuh ragam. Karya-karya realis, figuratif, ataupun abstrak muncul dari berbagai bahan patung\u2014mulai dari patung-patung kayu jati Ilham Rohadi atau Nanang Petrusi, fiberglass karya Johan Abe, hingga pelat besi karya Dwi S Wibowo.<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Pendekar peneliti<\/div>\n<div><\/div>\n<div>\u201dSepertinya, pencak silat tidak menjadi tuan rumah di negeri sendiri.\u201d Kalimat gelisah yang sering diucapkan mendiang O\u2019ong Maryono\u2014seorang pendekar sekaligus peneliti pencak silat\u2014menjadi lecutan yang merangsang para perupa. Janda O\u2019ong Maryono, Rosalia Sciortino Sumaryono, adalah ibu bagi perhelatan seni yang merayakan pencak silat dalam sebuah ruang galeri seni itu.<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Pada 20 Maret 2013, O\u2019ong Maryono berpulang, mewariskan semangat besarnya meneliti dan menulis pencak silat. O\u2019ong yang lahir di Bondowoso pada 28 Juli 1953 belajar silat sejak berumur 9 tahun. Kakeknya, Matrawi, menjadi guru pertama yang mengenalkan O\u2019ong kepada pencak aliran macan kumbang.<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Selain mempelajari berbagai aliran silat, ia juga belajar berbagai bela diri mancanegara, mulai dari karate, judo, aikido, jujitsu, hingga taekwondo. Sepanjang 1979 sampai 1987, O\u2019ong mendominasi berbagai kompetisi pencak silat, termasuk dua kali menjadi juara dunia kelas bebas pada 1982 dan 1984. Ia mengenalkan silat dengan membuka cabang perguruan Keluarga Pencak Silat Nusantara di Belanda, Italia, dan Jerman, menjadi pelatih tim nasional pencak silat Brunei, Filipina, dan Thailand.<\/div>\n<div><\/div>\n<div>\u201dSemangat itulah yang kami jaga, dengan mendirikan O\u2019ong Maryono Pencak Silat Award yang memberikan hibah kepada para peneliti pencak silat. Awalnya, pendanaan hibah berasal dari sumbangan keluarga O\u2019ong Maryono,\u201d tutur Rosalia.<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Sejak setahun silam, Rosalia dan Dolorosa mendiskusikan gagasan pameran patung silat dengan para pematung dan perupa yang menerima tantangan itu. \u201dIni kali pertama pematung bersama-sama membuat karya yang terinspirasi dari pencak silat. Sebagaimana pencak silat yang sangat beragam, interpretasi pencak silat sebagai sumber penciptaan patung pun sangat beragam,\u201d kata Dolorosa.<\/div>\n<div><\/div>\n<div>O\u2019ong Maryono Pencak Silat Award selaku penyelenggara pun piawai mengelola pameran patung itu sebagai peristiwa seni yang hidup dan berinteraksi dengan para pesilat berbagai aliran. Setiap Senin, Rabu, dan Jumat pada pekan penyelenggaraan pameran, selalu digelar atraksi silat yang menghadirkan para pesilat dari berbagai perguruan di sekitar Jakarta. Pada 8 dan 9 Agustus, Teater Koma juga mementaskan teater yang mengambil kisah para pendekar silat.<\/div>\n<div><\/div>\n<\/div>\n<p><\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 9 Agustus 2015, di halaman 26 dengan judul &#8220;Sejurus Diam, Sejurus Gerak&#8221;. Silat yang bergerak dan&#8230;<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[8],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/oongmaryonopencaksilataward.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1866"}],"collection":[{"href":"http:\/\/oongmaryonopencaksilataward.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/oongmaryonopencaksilataward.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/oongmaryonopencaksilataward.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/oongmaryonopencaksilataward.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1866"}],"version-history":[{"count":3,"href":"http:\/\/oongmaryonopencaksilataward.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1866\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2780,"href":"http:\/\/oongmaryonopencaksilataward.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1866\/revisions\/2780"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/oongmaryonopencaksilataward.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1866"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/oongmaryonopencaksilataward.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1866"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/oongmaryonopencaksilataward.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1866"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}